Sulap Aset Nganggur Jadi Pusat Bisnis, Komisi A Dorong Pemkot Surabaya Gandeng Investor 

Arif Fathoni (foto tikta.id)
Arif Fathoni (foto tikta.id)

Surabaya,Tikta.id - Ketua Komisi A DPRD Surabaya Arif Fathoni mendorong aset Pemkot yang menganggur disulap menjadi destinasi wisata maupun pusat bisnis dengan menggandeng investor.

Misalnya, sebut Fathoni THR dan aset-aset lain dipromosikan kepada investor. Namun begitu ia menekankan ada kepastian hukum agar kemudian hari tidak menimbulkan suatu masalah.

Baca Juga: Legislator PSI Buka Suara Terkait Isu Koalisi dengan Gerindra - PKB di Pilkada Surabaya

"Aset Pemkot yang di pusat kota maupun di pinggiran dilakukan kontes. Ayo siapa investor yang mau masuk, skemanya KPPU atau bagaimana yang penting ada kepastian hukum," tegas Fathoni, Selasa (26/3)

Kendati demikian, menurut Ketua DPD Golkar Surabaya itu mengungkapkan investor tidak menghendaki adanya peraturan baru setelah aset tersebut jadi pusat bisnis atau destinasi wisata. 

Baca Juga: Ini Alasan Golkar Surabaya Ingin Usung Eri Cahyadi di Pilkada Surabaya

"Yang diharapkan investor itu kan kepastian hukum jangan sampai kemudian investor sudah mengeluarkan anggarannya untuk membenahi atau membangun satu destinasi wisata atau pusat bisnis baru, kemudian peraturannya berubah-ubah, itu yang tidak dikehendaki investor," kata Fathoni.

Maka dari itu, Fathoni meminta agar Pemkot berkoordinasi dengan pakar hukum, kejaksaan serta kepolisian untuk mendayagunakan aset mati itu menjadi aset produktif.

Baca Juga: Hari Pertama Masuk Kerja, DPRD Surabaya Gelar Halal Bihalal 

Pasalnya beber Fathoni, banyak lahan pemkot yang tidak produktif dan biarkan menjadi lahan tidur atau nganggur. 

"Banyak sekali aset Pemkot yang tidak produktif hanya lahan nganggur dikasih papan pengumuman inilah lahan pemkot dilarang memasuki pekarangan tanpa izin, saya berharap pemerintah meminta pendapat hukum, kejaksaan dan kepolisian bagaimana mendayagunakan aset mati itu menjadi aset produktif yang bisa membuat stimulan ekonomi pertumbuhan di wilayah itu," urai Fathoni

Editor : Redaksi