SURABAYA – Menjelang libur akhir tahun 2025, wisata Kebun Raya Mangrove Surabaya yang meliputi Wonorejo, Gunung Anyar, dan Medokan Sawah dinilai belum dikelola optimal meski diklaim sebagai satu-satunya kebun raya mangrove di Indonesia seluas 34 hektare.
Minimnya akses transportasi umum, papan penunjuk arah, serta fasilitas pendukung masih menjadi keluhan utama pengunjung. “Selama perjalanan tidak ada penunjuk arah, hanya penunjuk arah bozem Wonorejo yang saya lihat. Ya tanya orang-orang sambil nge-maps khawatir kesasar,” ujar Maria, salah satu pengunjung.
Baca Juga: DKPP Surabaya Gandeng Finalis Puteri Remaja, Tanam 1000 Mangrove
Kondisi serupa disampaikan Arya yang menyoroti sepinya sentra kuliner. “Sentra kulinernya hanya tulisannya saja. Tadi haus mau beli minum eh sepi. Next kalau ke sini harus bawa bekal mas,” ujarnya.
Di sisi lain, konflik antara kepentingan konservasi dan ekonomi warga masih belum tuntas. Data Universitas Airlangga menunjukkan sekitar 40 persen hutan mangrove di kawasan Pantai Timur Surabaya masih rusak, diperparah rendahnya tingkat keberhasilan penanaman bakau akibat kesalahan teknis dan sampah plastik.
Baca Juga: Lanudal Juanda Bersama Mahasiswa Universitas Hang Tuah Tanam Ribuan Bibit Mangrove
Kritik juga datang dari Fraksi Gerindra DPRD Surabaya. Yona Bagus Widyatmoko menilai sektor pariwisata Surabaya berjalan tanpa terobosan berarti. “Dana dari pusat turun berkurang, APBD tertekan. Kalau pariwisata tetap dikelola tanpa visi dan keberanian berinovasi, jangan heran kalau PAD stagnan,” tegasnya cak Yebe sapaan akrabnya.
Dengan demikian, Cak Yebe menegaskan bahwa kunci utamanya adalah keberanian Pemerintah Kota Surabaya dalam menjawab tantangan optimalisasi wahana wisata milik pemkot. “Intinya adalah keberanian Pemkot menjadikan wisata sebagai daya tarik dan kebanggaan warga sebagai ikon Kota Surabaya di tengah kebijakan efisiensi anggaran dari pusat,” pungkas Wakil Ketua DPC Partai Gerindra Surabaya tersebut.
Baca Juga: Tanam Mangrove Serentak Lestarikan Alam di Pantai Banyuwangi
Hingga pertengahan 2024, rata-rata kunjungan Kebun Raya Mangrove hanya sekitar enam ribu orang per bulan, jauh dari potensi yang dimiliki. Pemkot Surabaya pun didesak segera melakukan pembenahan serius agar wisata mangrove tidak terus “berjalan di tempat” dan mampu menjadi pengungkit Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Editor : Redaksi