SURABAYA – Di tengah wajah politik yang kerap terasa kaku dan berjarak, sosok Senator Jawa Timur Lia Istifhama tampil berbeda. Dengan senyum hangat dan sikap yang membumi.
Perempuan yang akrab disapa Ning Lia ini menghadirkan politik yang lebih humanis, dekat, dan penuh empati. Bukan sekadar dikenal karena paras cantiknya, Ning Lia justru dicintai karena kehadirannya di tengah rakyat kecil.
Baca Juga: E-Katalog Versi 6, Lia: Persaingan Lebih Adil dan Terbuka
Terpilih sebagai Anggota DPD RI dari Jawa Timur, Ning Lia mencatat sejarah dengan meraih 2.739.123 suara, menjadikannya senator perempuan non-petahana dengan perolehan suara tertinggi di Indonesia.
Ia hanya berada di bawah Komeng (Jawa Barat) dan Gus Yasin (Jawa Tengah). Namun bagi masyarakat, angka bukanlah segalanya. Yang paling membekas adalah cara Ning Lia menjalankan politik: turun ke bawah atau mudun ngisor.
Ning Lia memilih tidak membangun jarak. Ia lebih sering terlihat duduk di rumah warga, berdialog dengan guru, pedagang kecil, petani, hingga pelaku UMKM, mendengar langsung persoalan mereka tanpa protokoler berlebihan.
“Politik itu amanah. Kita tidak boleh jauh dari rakyat. Jangan hanya berbicara di podium, tapi juga hadir dan mendengar di bawah,” ujar Ning Lia, Selasa (13/1)
Selain politisi, Ning Lia dikenal sebagai aktivis sosial, advokat, akademisi, penulis, hingga musisi. Karakter pekerja keras, jujur, dan peduli wong cilik memperkuat citranya sebagai senator yang melayani, bukan dilayani.
Pengamat politik Universitas Negeri Surabaya, Mubarok, menilai pendekatan Lia memberi warna baru bagi DPD RI.
“Ning Lia membawa pola komunikasi yang berorientasi pada konstituen. Ia menemui masyarakat tanpa pilih-pilih, sehingga DPD RI terasa lebih dekat dan tidak elitis,” ujarnya.
Komitmen mudun ngisor kembali ditunjukkan Ning Lia dalam agenda reses dan serap aspirasi di 16 kabupaten/kota Jawa Timur, meliputi Lamongan, Surabaya, Malang Raya, Nganjuk, Gresik, Pacitan, Lumajang, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Tuban, Bondowoso, Pamekasan, Blitar, hingga Bojonegoro.
Baca Juga: Lia Istifhama Apresiasi Ngawi, Ketahanan Pangan Tumbuh dari Kerja Bersama
Dari pertemuan dengan tenaga pendidik, pelaku wisata, dan pemangku kepentingan daerah, muncul empat isu strategis yang dinilai harus menjadi perhatian pemerintah pusat:
1. Kesehatan dan KRIS
Rumah sakit daerah masih menunggu pedoman teknis penerapan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS). Ning Lia menegaskan RS daerah harus diperkuat agar tetap produktif dan mampu menjalankan fungsi promotif dan preventif.
2. PPPK Guru RA
Guru Raudlatul Athfal (RA) di bawah Kementerian Agama dinilai belum mendapatkan kesempatan yang setara dalam seleksi PPPK, meski berperan penting dalam pendidikan usia dini berbasis karakter.
Baca Juga: Ketahanan Umat Dimulai dari Masjid, Senator Jatim Serukan Pemakmuran Berkelanjutan
3. Perlindungan Pekerja Wisata
Banyak pelaku pariwisata belum terlindungi BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan. Ning Lia juga mendorong pengembangan medical tourism dengan integrasi fasilitas kesehatan di kawasan wisata.
4. Pelestarian Bahasa Daerah
Ia menyoroti pentingnya penyusunan kamus 718 bahasa daerah sebagai perlindungan budaya nasional dan mendorongnya masuk prioritas anggaran 2027.
“Beliau itu humble, selalu menghibur, dan tidak pernah mengecewakan masyarakat. Tidak lelah mudun ngisor,” ujar Sriyatun, warga Gresik.
Editor : Redaksi