JAKARTA - Beberapa sahabat yang dulunya rutin mengadakan “Buddy Games” bertemu kembali setelah lima tahun berpisah.
Tujuan awalnya menyuntikkan kembali semangat hidup si Shelly yang tengah depresi. Dalam reuni ini, mereka merencanakan serangkaian tantangan fisik dan mental penuh aksi absurd, humor kasar, dan kesempatan memenangkan hadiah uang.
Baca juga: The Judge from Hell (2024): Ketika Keadilan Turun Bukan untuk Mengampuni
Namun, konflik muncul, ada rahasia medis, persaingan, dan ego yang tersinggung.
Di satu titik, teman-teman yang daulunya kompak mulai memperlihatkan sisi yang tak sesimpel sekadar “lucu-lucuan”.
Tema & Pesan
Persahabatan & Komitmen, bagaimana persahabatan diuji bukan hanya dalam suka, tapi juga saat masalah muncul, termasuk rasa bersalah, ego, dan pertandingan satu sama lain.
Baca juga: The Texas Chain Saw Massacre (1974): Teror yang Lahir dari Dunia yang Kehabisan Belas Kasih
Penebusan & Kesempatan Kedua: film menekankan bahwa terkadang seseorang harus “dikeluarkan” dari zona nyaman, atau dijerumuskan kembali dalam unsur kompetisi agar bisa bangkit dari perasaan gagal atau depresi.
Batas antara humor & penghinaan: film ini juga memperlihatkan bahwa dalam komedi “bromance ekstrem”, ada garis tipis antara yang lucu dan yang terasa kasar atau menyakitkan.
Catatan
Baca juga: Women of Mafia (2018): Perempuan yang Bertahan di Dunia yang Tidak Pernah Ramah
Buddy Games bukan film untuk semua orang kalau kamu suka komedi ringan, persahabatan, dan tidak keberatan dengan humor kasar atau adegan ekstrem, film ini bisa jadi hiburan yang pas.
Tapi kalau kamu mencari film komedi yang lebih “senior”, ada kedalaman karakter dan plot emosional, kemungkinan besar film ini akan terasa datar.
Editor : Redaksi