SIDOARJO – Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKi) Jawa Timur menggelar Diskusi Publik bertema “Jawa Timur Sedang Baik-Baik Saja” di Asmaya Ballroom, Hotel Premiere Place Juanda, Sidoarjo, Kamis (28/8).
Kegiatan yang dimulai pukul 11.00 WIB ini menghadirkan empat narasumber, Basa Alim Tualeka, Kunjung Wahyudi (Ketua FKKS Jatim), Mat Mochtar (tokoh masyarakat Jatim), serta Ketua MAKi Jatim, Heru Satriyo, yang juga bertindak sebagai moderator utama.
Baca Juga: MAKI Jatim Bantah Isu Pungli di PPDB, Ingatkan Pentingnya Peran Orang Tua dan Komite Sekolah
Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Ketua Kadin Jatim Sutadi, tokoh masyarakat Surabaya, serta perwakilan BHS Sonny Wibisono. Puluhan pimpinan LSM, ormas, aliansi masyarakat dan pemuda, serta insan pers juga mengikuti acara hingga tuntas.
Namun, absennya Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Jawa Timur menjadi sorotan tersendiri. Padahal, isu yang dibahas sangat erat kaitannya dengan dunia pendidikan, terutama dalam membangun literasi dan daya kritis generasi muda agar tidak mudah terpengaruh hoaks maupun provokasi.
Dalam sambutan pembuka, Heru Satriyo menegaskan bahwa Jawa Timur dalam kondisi baik-baik saja. “Hoaks, kekerasan, dan provokasi jangan diberi ruang. Jawa Timur harus tetap harmonis,” tegasnya.
Baca Juga: MAKI Jatim Desak Pemkot Surabaya Bubarkan Tenda Donasi di Taman Apsari
Kunjung Wahyudi menyoroti persoalan pungutan liar (pungli) yang kerap dipelintir menjadi narasi hoaks. Sementara itu, Dr. Basa Alim Tualeka menekankan pentingnya harmonisasi pola pikir dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Ketua Kadin Jatim menambahkan bahwa iklim kondusif di Jawa Timur sangat penting untuk kenyamanan para pengusaha dalam berinvestasi.
Menjelang penutupan, seluruh peserta mendeklarasikan slogan:
“Jawa Timur Damai, Aman, Nyaman, dan Sejahtera” serta “Jawa Timur Bangkit Bersama Menuju Gerbang Baru Nusantara.”
Baca Juga: Turnamen Biliar Piala Gubernur Jatim 2025 Jadi Ajang Cari Bibit Atlet Muda
Acara ditutup dengan seruan agar seluruh elemen masyarakat menjaga marwah dan kehormatan Jawa Timur, serta melawan narasi provokatif yang berpotensi memecah belah.
Absennya Dinas Pendidikan Jatim dalam forum publik ini akhirnya menjadi pertanyaan bersama: apakah sektor pendidikan sudah benar-benar hadir di garda depan dalam melawan hoaks, provokasi, dan isu negatif yang kian marak di tengah masyarakat?
Editor : Redaksi