Kiprah Alumni FEB UNAIR: Dari Bangku Kuliah, Menjaga Ikatan dan Menebar Manfaat

Rizky Supriadi
Rizky Supriadi

SURABAYA - Tidak semua perjalanan besar dimulai dengan sorotan. Sebagian justru tumbuh dari langkah-langkah kecil yang dikerjakan dengan tekun, senyap, dan penuh ketulusan. Itulah jalan yang ditempuh Rizky Supriadi, sosok alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga yang percaya bahwa makna pendidikan tidak berhenti saat wisuda digelar.

Di tengah ramainya perbincangan tentang kampus berdampak, Rizky memilih cara yang sederhana: bekerja sungguh-sungguh, merangkul sesama, lalu membuktikan lewat tindakan nyata. Baginya, dampak tidak selalu harus terdengar keras. Kadang ia hadir dalam bentuk tangan yang menguatkan, jejaring yang membuka jalan, dan manfaat yang dirasakan banyak orang.

Baca Juga: Dikukuhkan Jadi Guru Besar Unair, Lutfi Soroti Peran Strategis Demografi dalam Pembangunan

Ketika dipercaya memimpin IKAFE FEB UNAIR, Rizky tidak menganggap jabatan itu sebagai kebanggaan pribadi. Ia melihatnya sebagai amanah untuk menjaga rumah besar bernama alumni—tempat banyak cerita, perjuangan, dan harapan saling terhubung.

Rizky menempuh pendidikan S1 Akuntansi di Universitas Airlangga pada 1997–2001 dan lulus dalam waktu 3,5 tahun. Semasa kuliah, ia aktif di berbagai organisasi, dari Himpunan Mahasiswa, BEM Kewirausahaan, hingga kegiatan kerohanian seperti SKI dan UKKI. Ia juga pernah menjadi runner-up Mahasiswa Berprestasi UNAIR.

Namun lebih dari sekadar prestasi, masa kuliah memberinya bekal penting: disiplin, keberanian mencoba, dan keyakinan bahwa hidup selalu memberi ruang bagi mereka yang mau bergerak.

Perjalanan setelah lulus pun tidak selalu mudah. Seperti banyak anak muda lainnya, Rizky pernah berada di persimpangan, di antara keraguan dan harapan. Ia kemudian memilih dunia usaha—jalan yang tidak selalu nyaman, tetapi memberinya kesempatan untuk bertumbuh.

“Sebagai pengusaha, kita butuh jaringan. Tidak bisa berdiri sendiri,” ujarnya, Senin (20/4)

Dari keyakinan itu, ia membangun Graha Mukti Indah Group dan terus memperluas kiprahnya di berbagai komunitas profesional. Ia aktif di Airlangga Business Community serta dipercaya memimpin AMA Chapter Surabaya.

Namun di tengah kesibukan membangun usaha, Rizky tidak pernah melupakan almamaternya. Sejak 2010, ia aktif di IKAFE UNAIR, mulai dari mengurus Alumni Award, menjadi ketua panitia Dies Natalis hingga tiga kali, sampai akhirnya dipercaya memimpin organisasi alumni FEB UNAIR.

Baginya, alumni bukan sekadar nama-nama dalam daftar lulusan. Alumni adalah keluarga besar yang menyimpan potensi luar biasa, jika saling terhubung dan saling menguatkan.

Baca Juga: Pakar Hukum Unair: Perpol Nomor 10 Tahun 2025 Langgar Putusan MK dan 'Ingkar Konstitusional

“Harus ada yang mau merangkul. Menggabungkan potensi alumni itu tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri,” katanya.

Karena itulah, di bawah kepemimpinannya, IKAFE hadir sebagai jembatan antara kampus dan kehidupan nyata. Ia ingin mahasiswa merasakan bahwa setelah lulus mereka tidak berjalan sendirian. Ada kakak angkatan, ada jejaring, ada tangan yang siap membantu.

Rizky juga memaknai kampus berdampak dengan cara yang sangat membumi. Menurutnya, ilmu harus hidup di tengah masyarakat. Pengetahuan dari ruang kelas seharusnya menjawab persoalan nyata, memberi solusi, dan menghadirkan manfaat.

“Penelitian yang bisa diterapkan di dunia bisnis, itu sudah berdampak. Tidak harus selalu dalam bentuk CSR,” ujarnya.

Nilai itu pula yang ia jalankan dalam kehidupan pribadi. Selain berbisnis, Rizky terlibat dalam berbagai kegiatan sosial: mendirikan Sekolah Islam Nurul Hikmah di Sidoarjo, membangun masjid di lingkungan perumahan, serta mengelola panti asuhan dan klinik mata.

Baca Juga: Tingkatkan Daya Saing Durian, Tim Pengabdian Masyarakat FEB UNAIR Gelar Pelatihan Ekspor di Palu

Baginya, kebaikan tidak harus besar untuk menjadi berarti. Yang terpenting adalah hadir pada waktu yang tepat dan memberi manfaat bagi sesama.

Ia juga ingin alumni muda merasa dekat, bukan sungkan. Dengan pendekatan akrab yang ia sebut “nyelondohi”, Rizky berusaha menghapus jarak antargenerasi, agar junior bisa belajar tanpa takut, dan senior bisa berbagi tanpa merasa paling tinggi.

Di akhir perbincangan, Rizky merangkum semua pandangannya dalam kalimat sederhana, namun menyentuh makna hidup yang dalam:

“Apa yang dipelajari harus bisa digunakan, dan apa yang dilakukan harus memberi arti.”

Editor : Redaksi