Ketahanan Umat Dimulai dari Masjid, Senator Jatim Serukan Pemakmuran Berkelanjutan

Lia Istifhama
Lia Istifhama

GRESIK — Isu melemahnya keterikatan generasi muda terhadap masjid kembali mengemuka. Di tengah tantangan digitalisasi, krisis ruang pembinaan moral, hingga menurunnya partisipasi anak muda dalam kegiatan keagamaan, Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Gresik menegaskan pentingnya peran pemimpin publik dalam menjaga keberlanjutan fungsi masjid.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penganugerahan “Senator Peduli Masjid” kepada Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, dalam rangkaian DMI Award yang digelar di Masjid Agung Gresik.

Baca Juga: Lia Istifhama: Pendidikan Berkualitas Tak Selalu Harus ke Luar Negeri

Ketua DMI Kabupaten Gresik, Zainal Abidin, menyatakan penghargaan ini tidak sekadar simbolik, melainkan respons atas kebutuhan nyata umat—yakni menghadirkan masjid yang adaptif, ramah anak, dan relevan bagi generasi masa depan.

“Masjid hari ini menghadapi tantangan besar. Karena itu kami mengapresiasi figur yang tidak hanya bicara, tetapi juga terlibat aktif mendorong masjid ramah anak dan inklusif,” kata Zainal.

Lia Istifhama yang akrab disapa Ning Lia menyampaikan bahwa masjid tidak boleh terjebak sebagai ruang ritual semata.

Menurutnya, melemahnya fungsi sosial masjid berpotensi memperlebar krisis moral dan identitas generasi muda.

“Jika anak-anak kehilangan kedekatan dengan masjid, maka kita sedang mempertaruhkan masa depan umat. Masjid harus menjadi ruang aman, ruang tumbuh, dan ruang pembinaan karakter,” tegasnya.

Senator Jatim itu menekankan bahwa pemakmuran masjid harus dipahami sebagai agenda strategis peradaban, bukan sekadar kegiatan keagamaan seremonial.

Selain isu regenerasi, Ning Lia juga menyoroti problem klasik masjid: ketergantungan pendanaan dan lemahnya tata kelola keuangan. 

Baca Juga: Jembatan Kebangsaan: Silaturahmi Mabes Polri ke Lia Istifhama Perkuat Sinergi Kelembagaan

Ia mendorong masjid agar dikelola secara profesional dengan memanfaatkan potensi ekonomi umat secara halal dan berkelanjutan.

“Masjid harus berdaulat secara ekonomi. Sedekah dan infak bukan hanya rutinitas, tetapi fondasi kemandirian umat,” ujarnya

Menurutnya, pemahaman bahwa memakmurkan masjid adalah kebutuhan primer harus terus ditanamkan agar masjid tidak sekadar bertahan, tetapi berkembang.

Menjawab tantangan era digital, Ning Lia mengajak pengurus masjid untuk berani beradaptasi dengan teknologi dan media sosial. Konten kreatif berbasis nilai keislaman dinilai penting agar masjid kembali dekat dengan generasi muda.

Baca Juga: LaNyalla: MBG Bukan Sekadar Piring Makan, tapi “Piring Peluang” bagi Ekonomi Daerah

“Masjid harus masuk ke dunia anak muda, tanpa kehilangan nilai. Jika tidak, masjid akan tertinggal,” tegasnya

Menutup sambutannya, Ning Lia menekankan bahwa kontribusi terhadap masjid merupakan bentuk investasi sosial dan spiritual jangka panjang. Menurutnya, nilai ibadah dan dampak sosial dari masjid yang makmur akan dirasakan lintas generasi.

“Apa pun yang kita sisihkan untuk masjid bukan hanya membangun bangunan, tetapi membangun masa depan umat,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, DMI Kabupaten Gresik juga mengumumkan masjid dan musala berprestasi sebagai bagian dari penguatan standar pengelolaan masjid. Masjid Perum Omah Indah Menganti, Masjid Khoirul Ngepung Kadamean, dan Musala As Salam Ngargosari Kebomas dinilai berhasil menjadi contoh masjid yang aktif, inklusif, dan berdaya di tengah masyarakat.

Editor : Redaksi