Atlet Usia Dini Jangan Hanya Dikejar Massa Otot, ISNA Ingatkan Bahaya RED-S Sejak Dini

Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih
Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih

SURABAYA – Pembinaan atlet usia dini tidak seharusnya hanya berorientasi pada pembentukan massa otot dan peningkatan performa. Kecukupan energi, gizi seimbang, serta pemantauan kesehatan secara berkala harus menjadi prioritas utama agar atlet dapat tumbuh optimal dan terhindar dari risiko gangguan kesehatan jangka panjang.

Hal tersebut disampaikan Ketua PP ISNA (Indonesia Sport Nutritionist Association), Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, saat memaparkan materi mengenai Relative Energy Deficiency in Sport (RED-S) di Trans Luxury Surabaya, Sabtu (4/7).

Baca Juga: ISNA Perkuat Pembinaan Atlet Melalui Gizi, Sport Diet dan Anti-Doping Jadi Fokus Utama

Menurut Mirza, RED-S merupakan kondisi ketika asupan energi yang dikonsumsi atlet tidak mampu memenuhi kebutuhan tubuh akibat tingginya aktivitas fisik. Kondisi ini dapat berdampak pada pertumbuhan, kesehatan tulang, fungsi hormonal, hingga menurunkan performa olahraga.

"Atlet usia dini jangan hanya difokuskan pada pembentukan massa otot. Yang jauh lebih penting adalah memastikan proses pertumbuhan berjalan optimal melalui kecukupan energi dan gizi yang sesuai kebutuhan," ujar Mirza.

Ia menjelaskan bahwa pada fase usia dini, prioritas pembinaan harus diarahkan pada pertumbuhan tinggi badan, perkembangan fisik, dan kesehatan secara menyeluruh. Pembentukan massa otot secara maksimal sebaiknya dilakukan setelah fase pertumbuhan utama tercapai.

Dalam kesempatan tersebut, Mirza juga menekankan pentingnya skrining atau asesmen dini untuk mendeteksi risiko RED-S pada atlet. Hasil skrining umumnya dibagi dalam tiga kategori, yakni Red Light, Yellow Light, dan Green Light, yang menjadi dasar dalam menentukan apakah atlet dapat berlatih maupun bertanding.

"Deteksi dini sangat penting. Jangan sampai atlet tetap dipaksa berlatih ketika tubuhnya sedang mengalami defisit energi karena dampaknya bisa memengaruhi kesehatan dan prestasi dalam jangka panjang," katanya.

Baca Juga: ISNA Perkuat Pembinaan Atlet Melalui Gizi, Sport Diet dan Anti-Doping Jadi Fokus Utama

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penanganan RED-S tidak hanya berfokus pada peningkatan berat badan, melainkan meningkatkan ketersediaan energi melalui perbaikan pola makan, pemenuhan kalori yang cukup, serta penyesuaian beban latihan.

Pada atlet perempuan, salah satu tanda yang perlu diwaspadai adalah gangguan siklus menstruasi akibat kekurangan energi. Kondisi tersebut memerlukan pendampingan gizi dan evaluasi berkala hingga fungsi hormonal kembali normal.

"Pemulihan tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan waktu, pendampingan yang tepat, serta kerja sama berbagai pihak agar atlet dapat kembali sehat dan berprestasi," ungkapnya.

Baca Juga: Aruf Budi Prasetyo Resmi Pimpin IBCA MMA Jatim, Targetkan Atlet Terbaik di 2026

Mirza menambahkan, keberhasilan pencegahan dan penanganan RED-S membutuhkan kolaborasi antara pelatih, dokter olahraga, ahli gizi, psikolog, fisioterapis, serta dukungan penuh dari orang tua atlet.

Melalui pendekatan multidisiplin tersebut, atlet diharapkan mampu tumbuh sehat, memiliki performa optimal, dan terhindar dari berbagai risiko kesehatan akibat defisit energi selama menjalani latihan intensif.

"Prestasi yang berkelanjutan hanya bisa dicapai jika kesehatan atlet menjadi prioritas utama. Atlet yang sehat akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan mencapai prestasi terbaiknya," pungkas Mirza.

Editor : Redaksi