Air Mata dan Peluh Srikandi Damkar Pemalang Selamatkan Pondok Pesantren dari Musibah Kebakaran

Srikandi Damkar Pemalang saat memandang kebakaran di Pondok Pesantren Al-Manaar Muhammadiyah
Srikandi Damkar Pemalang saat memandang kebakaran di Pondok Pesantren Al-Manaar Muhammadiyah

PEMALANG – Siang itu, suasana Pondok Pesantren Al-Manaar Muhammadiyah Pemalang mendadak mencekam. Kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi dari salah satu sudut kompleks asrama.

Di tengah kepanikan para santri yang berhamburan menyelamatkan diri, datang satu regu yang memecah ketegangan, yakni Tim Srikandi Pemadam Kebakaran dari Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Pemalang.

Baca Juga: Damkar Pemalang Selamatkan Anak Kucing yang Terjebak Dua Hari di Atap Bangunan

Dengan sigap tanpa ragu, para srikandi berseragam lapangan lengkap itu melompat turun dari armada mobil pemadam. Beban selang bertekanan tinggi yang selama ini identik dengan kekuatan fisik pria mereka tarik dan arahkan dengan tangkas menuju pusat kobaran api.

Teriakan instruksi terdengar bersahutan di tengah deru mesin pompa. Di bawah terik matahari, peluh, keringat, dan debu arang tak menyurutkan langkah mereka. Sedikit demi sedikit, mereka menerobos panas untuk melokalisasi api agar tidak merembet ke bangunan asrama lainnya. Keberanian itu sekaligus mematahkan stigma bahwa profesi pemadam kebakaran hanya didominasi kaum adam.

Kepala Bidang Damkar dan Penyelamatan Satpol PP Kabupaten Pemalang, Nurokhman, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kamis (9/7), mengatakan kebakaran terjadi pada Selasa (7/7). Dalam penanganan tersebut, pihaknya menerjunkan empat personel damkar perempuan.

"Damkar mengirimkan dua unit dari Pos Induk Pemalang dan satu unit mobil water supply Kodim yang baru," tutur Nurokhman.

Ia menambahkan, insiden kebakaran di Pondok Pesantren Al-Manaar tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp500 juta.

Baca Juga: Jelang Lebaran, Perang Petasan dan Balon Air Kembali Terjadi di Pemalang

"Tidak ada korban jiwa. Kerugian diperkirakan kurang lebih Rp500 juta. Empat personel Srikandi Damkar diterjunkan guna membantu petugas yang sudah ada. Secara tupoksi dan uraian jabatan sama dengan petugas damkar pria. Hanya saja dalam praktik di lapangan, petugas damkar pria lebih menonjol mengingat perbedaan kondisi fisik mereka," tutupnya.

Sementara itu, petugas damkar perempuan Jenni Liliana (20) mengaku menjadi pemadam kebakaran perempuan penuh tantangan dan menuntut kehati-hatian dalam setiap penanganan kebakaran.

"Kesannya jadi petugas Damkar perempuan asyik dan ada rasa panik serta iba tentunya dengan korban kebakaran, terutama yang barusan terjadi pada hari Selasa kemarin. Karena yang terbakar kan asrama santri. Untungnya para santri sedang libur jadi lebih kondusif. Alhamdulillah dengan respons cepat kami sebagai petugas pemadam kebakaran, dibantu berbagai pihak, akhirnya api dapat dipadamkan meskipun tentunya banyak duka di dalamnya," tuturnya.

Baca Juga: Bakar Sampah Ditinggal Pergi, Sebuah Rumah Beserta Traktor dan Sepeda Terbakar

Setelah berjibaku melawan si jago merah, kobaran api akhirnya berhasil dipadamkan. Namun, tugas para srikandi belum selesai. Mereka melanjutkan proses pendinginan (cooling down) secara menyeluruh di sela-sela puing bangunan yang hangus.

Dengan teliti mereka menyemprotkan air ke bara api yang masih tersisa untuk memastikan tidak ada potensi kebakaran susulan. Tak hanya fokus pada pemadaman, para srikandi juga berupaya menenangkan para santri yang masih terlihat trauma akibat insiden tersebut.

Kehadiran regu damkar perempuan ini menjadi bukti nyata dedikasi dan profesionalisme perempuan dalam melayani masyarakat. Ketangguhan mereka menunjukkan bahwa panggilan kemanusiaan tidak mengenal batas gender ketika nyawa dan harta benda harus diselamatkan.

Editor : Redaksi